Senin, 01 Juni 2020
Rabu, 13 Mei 2020
Jumat, 13 Juli 2018
iZaura Solusi Sehat Tanpa Obat
Kelebihan dan Manfaat Air Alkali iZaura
Pada
Dasarnya kalau Kita Mendengar Kalimat Air , Pasti yang ada dalam benak kita
adalah sesuatu yang bisa kita minum , karena air memang untuk diminum , tapi
tahukah anda kalau air yang kita minum sehari hari terkadang jauh dari kata
sehat ? kalau anda tidak percaya dengan apa yang kami ucapkan , anda bisa pergi
ke laboratorium untuk melihat lebih jauh tentang air yang anda kosumsi selama
ini ,
Tapi anda sekarang tidak perlu kawatir , karena kini telah hadir Produk Terbaru
Dan Terbaik Di Tingkat Asia Dengan Berbagai Uji Coba Test Kesehatan, Dan Telah
mendapatkan ijin beredar dari Dinas kesehatan Karena memang Air Yang Kami
Edarkan Ini sangat baik Untuk kesehatan.
iZaura adalah Produk terbaik yang pernah ada dalam sejarah di indonesia dibidang air, kenapa saya bilang terbaik , ? karena air ini tidak cuma sehat dan menyehatkan, tapi juga bisa menyembuhkan dan menetralkan racun yang ada didalam tubuh kita , iZaura memang bukan obat, tetapi kalau kita meminum air ini , maka dampaknya adalah kita memiliki tubuh yang bugar, karena semua racun yang bersarang di dalam tubuh kita telah hancur dan di netralkan oleh air iZaura yang sehat
iZaura adalah Produk terbaik yang pernah ada dalam sejarah di indonesia dibidang air, kenapa saya bilang terbaik , ? karena air ini tidak cuma sehat dan menyehatkan, tapi juga bisa menyembuhkan dan menetralkan racun yang ada didalam tubuh kita , iZaura memang bukan obat, tetapi kalau kita meminum air ini , maka dampaknya adalah kita memiliki tubuh yang bugar, karena semua racun yang bersarang di dalam tubuh kita telah hancur dan di netralkan oleh air iZaura yang sehat
Memiliki syarat – syarat
air minum yang baik
Memiliki trace mineral yang sangat dibutuhkan tubuh
TDS air < 40 dan bersifat alkali atau basa, yang mampu menetralkan asam tubuh dari stress, makanan, polusi, dan gaya hidup
Memiliki ANTIOXIDANT, yang meningkatkan sistem imunitas tubuh
Memiliki trace mineral yang sangat dibutuhkan tubuh
TDS air < 40 dan bersifat alkali atau basa, yang mampu menetralkan asam tubuh dari stress, makanan, polusi, dan gaya hidup
Memiliki ANTIOXIDANT, yang meningkatkan sistem imunitas tubuh
Memiliki molekul air
berbentuk HEXAGONAL, yang meningkatkan penyerapan nutrisi kedalam tubuh
Memiliki NEGATIVE ION, yang mencegah kerusakan sel dan DNA karena radikal bebas
Memiliki OXYGEN, yang meningkatkan kadar oksigen dalam darah yang menciptakan energi dalam tubuh
Memiliki NEGATIVE ION, yang mencegah kerusakan sel dan DNA karena radikal bebas
Memiliki OXYGEN, yang meningkatkan kadar oksigen dalam darah yang menciptakan energi dalam tubuh
Memiliki ACTIVE HIDROGEN
yang diikat oleh mineral, untuk melawan oksidasi dan mencegah penuaan
Melalui proses MAGNETISASI yg membuat molekul air menjadi lebih teratur
Melalui proses MAGNETISASI yg membuat molekul air menjadi lebih teratur
Manfaat air alkali iZaura
membantu penyembuhan: diabetes, stroke, migrain, asam urat, jantung, alergi,
hipertensi, batu ginjal, kanker, maag, obesitas, penuaan dini, gangguan
vitalitas, gangguan hormonal, kerusakan sel, dan lain - lain. Untuk Pemesanan
Silahkan Telp atau SMS
Anjuran minum air alkali
iZaura untuk proses penyembuhan penyakit :
1. DIABETES melitus : 3 botol sehari selama 4 hari dilanjut 2 botol sehari
selama 12 hari dan 1 botol sehari untuk selanjutnya.
2. JERAWAT dan bintik
berair : dikompres iZaura 30 menit dan minum 1 botol sehari.
3. KISTA : 3 botol sehari
selama 3 minggu
selanjutnya 2 botol sehari
selama 1 bulan dan dilanjutkan 1 botol sehari untuk maintenance kesehatan kita.
4. BATU GINJAL : 3 botol
sehari selama 10 hari dilanjut 2 botol sehari selama 10 hari dan selanjutnya
cukup 1 botol sehari.
5. STROKE : 3 botol sehari
selama 3 minggu dilanjutkan 2 botol sehari.
6. NYERI HAID dan
keputihan : 2 botol sehari selama 1 bulan dilanjutkan 1 botol sehari.
7. PENGAPURAN tulang : 2
botol sehari selama 1 bulan dilanjutkan 1 botol sehari.
8. TUMOR OTAK : 3 botol
sehari selama 3 bulan dilanjutkan 2 botol sehari.
9. MATA Minus : disemprot
4 s/d 5 kali sehari dan minum 1 botol sehari.
10. Anak AUTIS dan
HIPERAKTIF : 2 botol sehari selama 3 bulan dilanjutkan 1 botol sehari.
11. JERAWAT membandel :
kompres 30 menit dan semprot sepanjang hari. Minum 2 botol sehari selama 1
minggu selanjutnya 1 botol sehari.
12. ALERGI menahun : 2
botol sehari
13. Bekas luka : semprot iZaura
4 s/d 5 kali minum 1 botol sehari.
14. Maag akut : 2 botol
sehari
15. Osteoporosis : 2 botol
sehari
16. Terapi kesuburan untuk
program kehamilan :
Suami dan Istri konsumsi
masing2 @ 2 botol sehari.
# Note: Untuk gagal ginjal dan jantung, biasanya konsumsi air minumnya dibatasi oleh dokter.
Sesuaikan dengan batasan
yang diperbolehkan dokter.
Dan masih banyak lagi, penyakit yang bisa diterapi dengan produk iZaura dengan takaran minimal sehari 1 botol.
Takaran minum iZaura tidak
mengikat,
iZaura bisa diminum setiap
saat, terutama disaat tubuh sedang dehidrasi.
Silahkan Contact Untuk Pemesanan : 082139372288 - 085606512866
Rabu, 17 Januari 2018
Minggu, 14 Januari 2018
Panen Udang dan Bandeng Tempo Dulu
Permisan salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Jabon
dimana Kecamatan Jabon ini merupakan kecamatan paling ujung, tenggara
Kabupaten Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan dan selat
Madura. Desa Permisan memiliki area tambak ± 874,900 Ha.
dari luas wilayah desa 952,498 Ha. Sebagian besar warga Permisan bertani
tambak (budidaya tambak). Rata - rata petambak di Permisan bisa memanen
tiga kali dalam setahun, dan hasilnya dijual di pedagang yang langsung datang
di tempat budidaya tambak. sedangkan panen udang bisa dua kali dalam setahun.
hasil dari budidaya tambak sendiri cukup menjanjikan dan menguntungkan maka
tidak heran jika bayak warga yang menggantungkan hidupnya di budidaya perikanan.
Di dekade 1980-an hingga menjelang tahun 1990-an budidaya
tambak di pesisir timur Sidoarjo mengalami masa-masa keemasan dengan
komoditas tambak unggulannya, udang windu dan bandeng. Pada masa itu, kawasan
ini menjadi sentra penghasil komoditas ekspor yang menghasilkan devisa dalam
jumlah yang besar. Para investor berbondong-bondong membenamkan modalnya di
tambak. Akibat derasnya aliran modal, banyak lahan-lahan pantai yang disulap
menjadi tambak. Produktivitas tambak digenjot dengan pemberian pakan yang ‘jor-joran’. Semua
itu untuk mengeruk keuntungan yang menggiurkan.
Kendala yang sering dihadapi oleh petambak adalah penyakit pada udang dan bandeng serta pendangkalan air, dan semenjak terjadinya pembuangan Lumpur lapindo melalui aliran Sungai porong menimbulkan permasalahan karena sumber pengairan tambak menjadi tercemar merusak terhadap tanah, menimbulkan dampak negatif pada udara, merusak dan menimbulkan dampak jangka panjang pada air, sehingga berkurangnya lapangan pekerjaan, terjadinya mobilitas penduduk, menimbulkan konflik pada hubungan petani dan keluarganya. Menurunnya pendapatan petani tambak udang bandeng, kerugian materiil berupa tambak yang rusak bahkan hilang dan penurunan harga jual tambak. Maka kendala itulah yang menyebabkan hasil panen bandeng dan udang menurun sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petambak.
![]() |
| Kemudian ikan bandeng di taruh di darat (Galengan) yang dipagari/dibatasi dengan PERMATI yg terbuat dari bahan bambu. |
![]() |
| Sesi makan makan ikan bandeng dan udang hasil tangkapan |
![]() |
| Sesi foto bersama dengan Pejabat Kecamatan |
![]() |
| Sesi foto bersama Istri Pejabat Kecamatan |
![]() |
| Sesi foto bersama Istri Pejabat Kecamatan |
![]() |
| Proses pengambilan ikan bandeng dalam lingkaran WIDE kemudian ambil menggunakan SESER atau JOMPO |
![]() |
| Sesuai dengan perkembangan jaman dan majunya teknologi proses pengambilan ikan bandeng dengan cara penyedotan/di pompa, air tambak dibuang ke luar area. |
![]() |
| Setelah air tambak sudah dangkal kemudian ikan bandeng dan bader siap untuk di ambil/di seser (JOMPO) dengan cara memasang WARING dengan melingkar. |
![]() |
| Pengambilan ikan bandeng dan bader dari PERMATI yang dibentuk melingkar |
![]() |
| Pemilahan ikan bandeng dan bader dari PERMATI yang kemudian di jual ke pengepul |
Kendala yang sering dihadapi oleh petambak adalah penyakit pada udang dan bandeng serta pendangkalan air, dan semenjak terjadinya pembuangan Lumpur lapindo melalui aliran Sungai porong menimbulkan permasalahan karena sumber pengairan tambak menjadi tercemar merusak terhadap tanah, menimbulkan dampak negatif pada udara, merusak dan menimbulkan dampak jangka panjang pada air, sehingga berkurangnya lapangan pekerjaan, terjadinya mobilitas penduduk, menimbulkan konflik pada hubungan petani dan keluarganya. Menurunnya pendapatan petani tambak udang bandeng, kerugian materiil berupa tambak yang rusak bahkan hilang dan penurunan harga jual tambak. Maka kendala itulah yang menyebabkan hasil panen bandeng dan udang menurun sehingga menyebabkan kerugian besar bagi petambak.
Selasa, 01 Agustus 2017
Kamis, 27 Juli 2017
Jumat, 07 Juli 2017
Menjelajahi Kawasan Kepurbakalaan di Sidoarjo
Wisata Situs dan Cagar Budaya
Sejarah merupakan kisah–kisah masa lalu yang bersinar kebenarannya. Kisah yang bisa diambil intisarinya dan pesan–pesan yang tersurat maupun tersirat di dalamnya. Setiap daerah pastilah mempunyai sejarah yang berbeda-beda. Demikian pula dengan Sidoarjo. Kabupaten Sidoarjo
adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah
Sidoarjo. Dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala dan merupakan
wilayah dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Jenggala adalah salah satu dari dua
pecahan kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga dari Wangsa Isyana. Kerajaan ini berdiri tahun 1042, dan berakhir sekitar tahun 1130-an.
Sedangkan Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan
Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya (1293 M). Kerajaan ini mencapai
puncak kejayaannya pada abad ke-14 yaitu pada masa kekuasaan Hayam Wuruk
(1350-1389 M) yang didampingi oleh Patih Gadjah Mada (1331-1364 M). Kerajaan
Majapahit adalah kerajaan Hindu terakhir. Jadi di Sidoarjo banyak sekali candi,
prasasti dan tempat-tempat peninggalan dari Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Majapahit. Tempat-tempat peninggalan sejarah yang tersebar di Sidoarjo umumnya
terletak di sekitar rumah penduduk. Banyak peninggalan sejarah tersebut rusak
dimakan usia. Tapi untungnya masih ada juru pelihara yang mau merawat dan
menjaga cagar budaya itu. Candi-candi di Sidoarjo Banyak menggunakan susunan batu merah besar. Dominasi batu merah besar merupakan ciri khas Jenggala dan
Majapahit.
1. Candi Pari
Candi Pari merupakan sebuah peninggalan Masa Klasik Sidoarjo, Candi Pari ini berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Candi tersebut berada sekitar 2 km ke arah barat laut pusat semburan lumpur PT Lapindo Brantas saat ini. Candi ini berada Candi ini merupakan suatu bangunan persegi empat dari batu bata, menghadap ke barat dengan ambang serta tutup gerbang dari batu andesit. Dahulu, di atas gerbang ada batu dengan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M. Menurut Laporan J. Knebel dalam “Rapporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera” 1905-1906 Candi Pari dan Candi Sumur dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu.
Candi Pari ini memiliki tinggi 15,40 meter, panjang 16 meter dan lebar 14,10 meter. Candi Pari bisa dibilang masih memiliki bentuk yang utuh, kaki dan badan candi masih ada hanya sebagain atap candi sudah tidak ada. Candi Pari minim sekali akan hiasan atau relief. Hiasan yang ada hanya miniatur candi yang menjorok keluar dari badan candi. Di atas miniatur candi ini terdapat hiasan berupa teratai. Di kanan-kiri miniatur candi ini terdapat lubang angin yang langsung tembus ke dalam bilik candi. Pada bagian atap candi sebenarnya ada hiasan binatang, namun sekarang sudah dalam kondisi yang aus. Keunikan lainnya mengenai Candi Pari selain bentuknya yang tambun adalah tangga pintu masuk. Jika candi-candi lainnya memiliki tangga masuk yang langsung menuju bilik candi, maka hal ini tidak berlaku bagi Candi Pari. Untuk menuju bilik candi, sebelumnya akan ada sebuah bidang persegi (batur) yang menjorok keluar dari bawah pintu candi (hal ini juga dapat dilihat di Candi Ngetos dan Candi Bangkal). Dikanan dan kiri batur tersebut terdapat tangga dengan pipi tangga (tempat pegangan) dalam kondisi yang telah runtuh. Di beberapa sudut halaman candi juga terdapat reruntuhan batu bata, kemungkinan merupakan bekas pagar yang mengelilingi Candi Pari.
Di dalam bilik candi terdapat beberapa batu andesit, arca-arca dalam kondisi yang tak utuh serta beberapa balok kayu. Pada dinding bilik candi yang berhadapan dengan pintu masuk candi, terdapat sandaran arca dengan ukuran 6x6 meter. Mengingat besarnya sandaran arca, pasti besar pula arca yang menempati bilik Candi Pari ini. Namun, entah arca apa yang berada disana, mengingat arca tersebut tak pernah diketemukan.
2. Candi Sumur
Candi Sumur ini berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, sekitar 100-200 m sebelah barat daya Candi Pari. Didirikan pada masa yang sama dengan Candi Pari, keduanya termasuk dalam cagar budaya di Kabupaten Sidoarjo. Menurut laporan J. Knebel dalam “Repporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera” 1905-1906 Candi Sumur, juga Candi Pari, dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu. Saat ini candi dalam keadaan rusak, tinggal sisa dari bagian dinding sebelah timur dan selatan, beserta lantai dan fondasi bangunan. Candi Sumur ini diperkirakan dibangun bersamaan dengan Candi Pari, dan seperti halnya Candi Pari, Candi Sumur juga terbentuk dari susunan bata merah. Pada bangunan candi ini juga tidak ditemukan ukiran atau relief-relief yang mendhias dinding atau kaki candi. Bentuk unik hanya terlihat dari susunan anak tangga yang berada di sisi selatan candi. Anak tangga ini cukup "curam" dan tidak memiliki dinding tangga di bagian sisinya, sehingga perlu perhatian bila pengunjung ingin menaikinya dikarenakan bata penyusun anak tangga atau tempat berpijak kaki itu sendiri tidak tersusun rata dan rapi. Berbeda dengan Candi Pari yang memiliki ukuran jauh lebih besar, ukuran Candi Sumur lebih kecil, kira-kira hanya setengah dari Candi Pari, dan hanya berhasil dipugar separuhnya. Banyak bata penyusun yang hilang tidak diganti. Kemungkinan besar tidak diketemukannya sisa-sisa batu pembentuk dinding candi, dan tidak adanya informasi yang bisa dijadikan sebagai referensi bentuk asal dari candi tersebut menyebabkan Candi Sumur ini direstorasi seperti apa yang bisa kita lihat sekarang. Untuk menghindari dari runtuhnya sisa dinding candi, pada bagian dalam dibangun kerangka dari semen yang berfungsi sebagai penopang dan pengikat susunan badan candi yang masih ada.
1. Candi Pari
Candi Pari merupakan sebuah peninggalan Masa Klasik Sidoarjo, Candi Pari ini berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Candi tersebut berada sekitar 2 km ke arah barat laut pusat semburan lumpur PT Lapindo Brantas saat ini. Candi ini berada Candi ini merupakan suatu bangunan persegi empat dari batu bata, menghadap ke barat dengan ambang serta tutup gerbang dari batu andesit. Dahulu, di atas gerbang ada batu dengan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Merupakan peninggalan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M. Menurut Laporan J. Knebel dalam “Rapporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera” 1905-1906 Candi Pari dan Candi Sumur dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu.
Candi Pari ini memiliki tinggi 15,40 meter, panjang 16 meter dan lebar 14,10 meter. Candi Pari bisa dibilang masih memiliki bentuk yang utuh, kaki dan badan candi masih ada hanya sebagain atap candi sudah tidak ada. Candi Pari minim sekali akan hiasan atau relief. Hiasan yang ada hanya miniatur candi yang menjorok keluar dari badan candi. Di atas miniatur candi ini terdapat hiasan berupa teratai. Di kanan-kiri miniatur candi ini terdapat lubang angin yang langsung tembus ke dalam bilik candi. Pada bagian atap candi sebenarnya ada hiasan binatang, namun sekarang sudah dalam kondisi yang aus. Keunikan lainnya mengenai Candi Pari selain bentuknya yang tambun adalah tangga pintu masuk. Jika candi-candi lainnya memiliki tangga masuk yang langsung menuju bilik candi, maka hal ini tidak berlaku bagi Candi Pari. Untuk menuju bilik candi, sebelumnya akan ada sebuah bidang persegi (batur) yang menjorok keluar dari bawah pintu candi (hal ini juga dapat dilihat di Candi Ngetos dan Candi Bangkal). Dikanan dan kiri batur tersebut terdapat tangga dengan pipi tangga (tempat pegangan) dalam kondisi yang telah runtuh. Di beberapa sudut halaman candi juga terdapat reruntuhan batu bata, kemungkinan merupakan bekas pagar yang mengelilingi Candi Pari.
Di dalam bilik candi terdapat beberapa batu andesit, arca-arca dalam kondisi yang tak utuh serta beberapa balok kayu. Pada dinding bilik candi yang berhadapan dengan pintu masuk candi, terdapat sandaran arca dengan ukuran 6x6 meter. Mengingat besarnya sandaran arca, pasti besar pula arca yang menempati bilik Candi Pari ini. Namun, entah arca apa yang berada disana, mengingat arca tersebut tak pernah diketemukan.
Candi Sumur ini berlokasi di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, sekitar 100-200 m sebelah barat daya Candi Pari. Didirikan pada masa yang sama dengan Candi Pari, keduanya termasuk dalam cagar budaya di Kabupaten Sidoarjo. Menurut laporan J. Knebel dalam “Repporten Van De Comissie In Nederlandsch Indie voor Oudheidkundig Onderzoek Op Java en Madoera” 1905-1906 Candi Sumur, juga Candi Pari, dibangun untuk mengenang tempat hilangnya seorang sahabat/adik angkat dari salah satu putra Prabu Brawijaya dan istrinya yang menolak tinggal di keraton Majapahit di kala itu. Saat ini candi dalam keadaan rusak, tinggal sisa dari bagian dinding sebelah timur dan selatan, beserta lantai dan fondasi bangunan. Candi Sumur ini diperkirakan dibangun bersamaan dengan Candi Pari, dan seperti halnya Candi Pari, Candi Sumur juga terbentuk dari susunan bata merah. Pada bangunan candi ini juga tidak ditemukan ukiran atau relief-relief yang mendhias dinding atau kaki candi. Bentuk unik hanya terlihat dari susunan anak tangga yang berada di sisi selatan candi. Anak tangga ini cukup "curam" dan tidak memiliki dinding tangga di bagian sisinya, sehingga perlu perhatian bila pengunjung ingin menaikinya dikarenakan bata penyusun anak tangga atau tempat berpijak kaki itu sendiri tidak tersusun rata dan rapi. Berbeda dengan Candi Pari yang memiliki ukuran jauh lebih besar, ukuran Candi Sumur lebih kecil, kira-kira hanya setengah dari Candi Pari, dan hanya berhasil dipugar separuhnya. Banyak bata penyusun yang hilang tidak diganti. Kemungkinan besar tidak diketemukannya sisa-sisa batu pembentuk dinding candi, dan tidak adanya informasi yang bisa dijadikan sebagai referensi bentuk asal dari candi tersebut menyebabkan Candi Sumur ini direstorasi seperti apa yang bisa kita lihat sekarang. Untuk menghindari dari runtuhnya sisa dinding candi, pada bagian dalam dibangun kerangka dari semen yang berfungsi sebagai penopang dan pengikat susunan badan candi yang masih ada.
3. Candi Pamotan I
Candi Pamotan I ini berlokasi di Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, kata Pamotan biasa di pakai sebagai gelar jabatan yang di berikan kepada salah seorang keluarga majapahit. Penyandang gelar pamotan berkuasa atas daerah pamotan sebagai raja muda atau penguasa daerah. Oleh karena itu Pamotan merupakan negara daerah yang sangat penting pada zaman Kerajaan Majapahit. Kekuasaan atas daerah itu selalu di rangkap oleh tokoh yang sudah memegang kekuasaan atas negara daerah lain. Contohnya adalah Bhre Pamotan I, yakni Wijaya Rajasa yang juga bergelar Bhre Wengker. Namun demikian apakah bisa diartikan bahwa candi pamotan merupakan salah satu peninggalan kerajaan mojopahit .hal itu masih merupakan dugaan yang kebenaranya masih harus di teliti secara Arkeologis (Ilmu Purbakala). Berbeda dengan Candi Pari dan Candi Sumur Candi Pamotan ini berukuran panjang : 4,8 m Lebar 4,8 m dan Tinggi 2,5 m, lokasinya tidak jauh dari Candi Pari dan Candi Sumur di Desa Candi Pari, Candi Pamotan ini jauh lebih sederhana.
4. Candi Pamotan II
Candi Pamotan II ini berjarak 50 m dari Candi Pamotan I juga terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Candi ini berupa tumpukan batu bata mirip candi. Dikelilingi hutan bambu, suasana di situ
terasa teduh, sejuk, gelap, dan dipercaya mengandung kekuatan supranatural.
Candi itu belum punya nama, sehingga gampangnya disebut Candi Pamotan II. Tapi
orang-orang biasa menyebut tempat keramat. Di samping candi penuh lumut hijau ini ada sebuah arca yang kepalanya
sudah hilang. Beberapa waktu lalu, katanya, kawasan itu dikunjungi pemerintah
baik dari Dinas Pariwisata Sidoarjo maupun Dinas Purbakala. Semua sepakat bahwa
Candi Pamotan II merupakan bangunan cagar budaya seperti Candi Pamotan I di
sebelahnya. Warga Desa Pamotan cukup menghormati barang-barang bernilai sejarah, sampai
sekarang tidak ada orang Pamotan yang merusak, apalagi mencuri batu bata itu. Candi Pamotan I dan Candi Pamotan II tak terurus membuat situs penting ini belum menjadi objek kunjungan masyarakat. Jangankan warga luar Sidoarjo, warga di kawasan Candi Pamotan pun belum tahu lokasi persisnya.
Candi Dermo adalah salah satu candi yang dibangun pada Masa Kerajaan Majapahit, pada wangsa Raja Hayam Wuruk. Candi bercorak hindu ini berdiri pada tahun 1353 dibawah Pimpinan Adipati Terung yang sekarang makamnya terdapat di Utara Masjid Trowulan. Candi Dermo ini terletak di Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Candi ini termasuk salah satu kompleks candi yang dibangun oleh Kerajaan Majapahit sebagai bukti akan luasnya daerah kekuasaan yang dimiliki. Candi ini sebenarnya merupakan Gapura atau Pintu Gerbang, orang Jawa mengatakan Gapura Ke Bangunan Suci. Arti dari Bangunan suci sendiri adalah bangunan induk yang biasanya terletak di sebelah timur candi. Begitupula dengan Candi Dermo, sebenarnya dahulu di sebelah timur Candi ada bangunan induk yang ukurannya lebih besar, namun sekarang bangunan induk tersebut sudah pupus dimakan waktu dan akhirnya roboh. Oleh masyarakat jaman dulu, lahan puing-puing bangunan induk tersebut dijadikan pemukiman oleh warga sekitar. Keadaan Candi kini sudah mulai rapuh, banyak puing-puing yang runtuh sehingga menyebabkan candi mulai tak terbentuk. Meskipun begitu, masih ada beberapa relief candi yang masih utuh di sisi bagian samping kanan dan kiri, namun beberapa yang ada di puncak sudah tak terbentuk karena banyak batu bata yang rapu dan runtuh. Pada kompleks candi Dermo, terdapat 4 buah Arca dengan 2 macam jenis, yakni Arca Manusia Bersayap dan Arca Kolo. Namun sayangnya, sekarang salah satu dari arca-arca tersebut ada yang sudah hancur, sehingga kini Candi Dermo hanya memiliki 3 Arca saja, sedangkan pemugaran masih dilakukan selama 2 kali sekitar tahun 1905-1914, itupun pada masa Penjajahan Belanda, sehingga sebagian badan candi sudah direnovasi. Candi ini tak begitu luas. Bangunan candi dengan tinggi 11.05 m, panjang 10.84 m dan lebar 10.77 ini memiliki luas halaman sekitar 22 m x 20 m dengan sebuah pos kecil di pelataran depan. Tak ada tempat parkir disana, bahkan jalan menuju candi inipun begitu kecil dan sempit, sehingga hanya dapat menampung kendaraan dengan jumlah terbatas, itupun dengan diparkir di halaman rumah warga sekitar kawasan candi.
6. Candi Tawang Alun
Candi Tawang Alun, Tapi ada juga yang biasa menyebutnya Sumur Windu. Candi Tawang Alun merupakan salah satu candi peninggalan kerajaan Majapahit saat pemerintahan Prabu Brawijaya II. Candi ini terletak di Desa Buncitan Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Mungkin jika dilihat dari gambar maupun secara kasat mata serasa tidak sebegitu menarik di banding dengan candi lain pada umumnya, Namun apabila diamati secara detail nampak adanya tatanan arsitektur candi atau bangunan religius pada masa lalu. Untuk menemukan kawasan candi yang satu ini memang terbilang sedikit susah. Karena masyarakat sekitarpun jarang yang mengetahui tentang adanya Candi Tawang Alun. Dalam perjalanan menuju Candi Tawang Alun anda akan melihat banyak banyak tambak dan yang sebetulnya di dalam tambak itu ada banyak tatanan batu–batu petilasan. Ketika memasuki kawasan Candi Tawang Alun pengunjung juga akan disambut oleh bau belerang yang sedikit terasa di hidung. Karena tanah lokasi candi Tawang Alun berada diatas gunung kecil yang mengeluarkan lumpur panas, air panas dan uap air panasnya mirip lava gunung berapi. Candi Tawang Alun sampai saat ini di fungsikan oleh warga sekitar untuk ritual-ritual pengantin, hari-hari besar dan di setiap malam bulan purmana banyak seniman-seniman yang datang ke sekitar candi ini untuk menenangkan diri dan mencari inspirasi ‘kata Pak Saiful sebagai juru kunci yang sekaligus seorang seniman. Banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi di candi ini diantaranya ada warga sekitar yang mengambil beberapa batu besar candi untuk di jadikan rumah, beberapa malam kemudian orang tersebut bermimpi di pukuli orang ke esokan harinya orang tersebut merasa badannya sakit-sakit semua dan tak lama kemudian orang tersebut mengembalikan batu besar yang diambilnya ke tempat semula. Selang beberapa hari kemudian orang tersebut meninggal dunia. Adapula cerita dari pak Saiful yang perna di hampiri seorang putri yang memakai baju hijau yang khas dengan baju kerajaan pada zaman dulu. Dan masih banyak hal-hal aneh yang terjadi.
Para sahabat
semua, inilah sedikit tulisan saya tentang Situs dan Cagar Budaya di
Sidoarjo, dengan latar belakang sejarah yang saya dapat dari berbagai
sumber. Sebenarnya masih banyak lagi situs-situs lain yang belum saya muat
disini seperti Candi Medalem, Candi Wangkal, Situs Watu Tulis
(Petilasan Watu Tulis), Situs Pelawangan Suwaluh, Situs Terung atau
lebih populer dengan sebutan Candi Terung, dan baru-baru ini ditemukan
yaitu Situs Sumur Agung di Desa Urangagung Kecamatan Sidoarjo, dan mungkin
masih banyak lagi candi maupun situs-situs lain yang masih terkubur di bumi
Sidoarjo (belum diketemukan). Candi maupun situs-situs di
Sidoarjo termasuk salah satu peninggalan jejak masa lampau yang harus dijaga
dan dilestarikan, maka dari itu mari kita ikut serta membantu melestarikannya
agar peninggalan masa lampau dapat terjaga dan abadi, sehingga anak cucu kita
dapat menikmatinya nanti. Semoga damai selalu, rahayu mulyaning jagat.
|
Langganan:
Postingan (Atom)

























































